Hukrim  

Orang Tua Korban Pencabulan Desak PPA Polres Bima Profesional

 

Foto : Surat pengaduan pihak korban pencabulan anak SD di Madapangga, Rabu (8/12/2021) (Foto : IST)

Bima, Lintasrakyatntbnews.com – Kasus dugaan pencabulan anak SD dilakukan oknum guru berinisial SN (44) di Madapangga, Rabu (8/12/2021), pihak keluarga korban mendesak Unit PPA Satreskrim Polres Bima untuk bertindak secara profesional.

“Ya, tindak secara sistemik hukum dan jangan membuat kami tidak percaya kinerja polisi,” kata orang tua korban kepada wartawan, Rabu (10/3/2022) sore.

Menurut dia, desakan itu bukan tanpa alasan. Namun, itu dikarenakan tindakan Unit PPA tidak profesional, jika dilihat dari lambannya proses hukum. Sementara laporan sudah tiga bulan dengan nomor : TBL/660/XII/2021/SPKT/ Res. Bima.

Bayangkan saja, kasus sudah tiga bulan berjalan. Bahkan, menuai reaksi LSM Peluru NTB hingga memblokade jalan raya di depan Kantor Polsek Madapangga dua kali.

“Kemarin, kami pertanyakan progresnya. Namun, bukannya kami diberitahu perkembangan kasus. Eh, malah kami disuruh datangi kejaksaan yang memegang kasus itu,” ungkapnya.

Dia menegaskan, untuk apa pihak korban mendatangi jaksa, jika kasus masih seputar PPA. Coba saja terduga pelaku dan berkas perkaranya sudah di jaksa, mungkin tidak jadi soal.

“Ini kan, kasusnya masih di PPA. Terlebih, terduga pelaku pun, kami lihat masih di ruangan penyidik kemarin. Jadi, untuk apa kami ke jaksa,” tegasnya.

Dia menambahkan, biasanya setiap perkembangan kasus mesti diberitahukan ke pihak korban melalui Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP).

Tapi, giliran kasus bejat oknum guru yang konon sudah lulus seleksi Guru P3K itu, kok PPA tidak memberikan SP2HP-nya. Sementara SP2HP wajib diberikan kepada pelapor.

“Ini ada apa dan kenapa SP2HPnya tidak dikirim ke kami,” pungkas dia, dengan nada kesal.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Bima, Masdudin dicoba dikonfirmasi melalui pesan WhatsAppnya, Rabu (9/3) pagi, enggan menanggapi.

Chat dilayangkan terlihat dua tanda centang biru. Hingga berita ini diterbitkan masih membutuhkan informasi. (Muhtar Habe)

error: Content is protected !!