Petani Desa Rasabou Segel Sumur Bor

Foto : Petani Desa Rasabou yang menyegel sumur bor dalam di sekitar perumahan relokasi dampak banjir, Minggu (6/3/2022) sekitar pukul 09.15 WITA (Foto : IST)

Bima, Lintasrakyatntbnews.com – Petani So Mbadu, Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima menyegel sumur bor dalam di sekitar perumahan relokasi dampak banjir, Minggu (6/3/2022) sekitar pukul 09.15 WITA.

Anggota BPD setempat, M. Khardi mengatakan, penyegelan sontak dilakukan petani, karena Kepala Dinas Perkim Kab setempat tidak tunaikan janjinya.

Kadis menjanjikan, jika sumur bor tersebut untuk kebutuhan pertanian warga. Namun, kenyataannya hanya diperuntukan penghuni rumah dampak banjir saja.

“Ya, Kadis Perkim tidak konsisten dan langgar janjinya sehingga membuat rasa kecewa warga,” tegas Oyan, sapaan akrabnya.

Dia menyebut, petani menilai Kadis tidak konsisten, itu dapat dibuktikan tidak adanya jaringan atau saluran air menuju lahan pertanian warga sekitarnya.

“Sementara sebelumnya, Kadis sudah sepakati kalau sumur bor diperuntukan lahan pertanian warga,” pungkas pria yang juga berprofesi wartawan itu.

Sekretaris BPD, Faisal pun pertanyakan janji Kadis Perkim bahwa sumur bor dibuat untuk mengairi lahan petani. Sementara realita di lapangan tidak sesuai dijanjikan sebelumnya.

“Kalau memang sumur bor itu untuk kebutuhan pertanian, kenapa tidak dibikin saluran atau jaringan menuju lahan pertanian?” tanya Faisal.

Jika keberadaan sumur bor, kata dia, bukan untuk kebutuhan sesuai dijanjikan Kadis sebelumnya, petani minta sumur bor dibongkar saja.

“Petani minta membongkarnya. Sebab, merugikan petani. Apalagi, petani sudah beri lahan untuk bangun sumur bor. Namun, azas manfaat tidak didapat dan ini kam lucu. Bahkan, petani menilai pembodohan,” tutup Faisal.

Petani So Mbadu, Muhtar mengaku kecewa dengan sikap pemerintah. Sebelumnya, lahan untuk bangun sumur bor diberikan pemilik lahan dengan harapan agar menikmati azas manfaat sebagai sarana pengairan lahan pertanian.

“Pemerintah ingkar janji, sumur bor untuk mengairi lahan pertanian, tapi kenyataannya tidak seperti harapan,” tegas Muhtar.

Petani lain, H Abdullah mengaku sudah memberikan lahan, tapi tidak mendapat azas manfaat. Padahal, pembebasan lahan dengan harapan dapat menggunakan sumur bor untuk mengairi lahan pertanian.

“Kita seakan – akan ditipu. Sumur bor bukan untuk kita, tapi persediaan kebutuhan penghuni rumah dampak banjir,” kata H Abdullah.

Sementara itu, Kadis Perkim Kabupaten Bima, Taufik mengangkat bicara soal penyegelan sumur bor dalam di sekitar perumahan relokasi dampak banjir dilakukan sejumlah petani Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Minggu (6/3/2022) sekitar pukul 09.15 WITA.

Taufik mengatakan, pihaknya tidak pernah menjanjikan pembangunan sumur bor u/ pertanian seperti diberitakan sejumlah media online sebelumnya.

“Siapa sumber beritanya, kapan saya ucapkan itu. Di mana, dan dalam forum apa? Apa kewenangan saya mengurus urusan irigasi yang bukan kewenangan tugas saya?” tanya Taufik kepada wartawan, Minggu (6/3) sekitar pukul 22.55 WITA malam.

Urusan Perkim saat itu, kata dia, lingkupnya hanya terkait urusan perumahan, air minum, sanitasi dan RTH.

“Saya paham batas tugas sehingga tidak mungkin saya bicara dalam urusan yang bukan kapasitas,” ungkap Taufik.

Konteks pembahasan sumur bor, sambung dia, saat itu kaitan dengan urusan pemerintah yang sedang membangun rumah u/ relokasi akibat banjir.

Tentu saja untuk kelangsungan hidup dan memenuhi standar hidup sehat harus difasilitasi dengan penyediaan sarana air minum.

“Ya, karena ada penolakan dari warga untuk pengeboran di Tambe, sehingga kami bersama BWS mengupayakan pengeboran di Desa Rasabou, meskipun akan dialirkan untuk melayani penduduk Tambe di permukiman relokasi,” jelas Taufik.

Upaya ini, sambung dia, pihaknya lakukan pendekatan dengan pemilik tanah, Kades Rasabou, dan Perwakilan BPD. Soal penggunaan air sumur bor tetap diperuntukan penggunaanya u/ air minum.

Namun, dalam penyampaiannya pemilik lahan berharap juga air tersebut bisa dimanfaatkan u/ kebutuhan pemilik lahan sewaktu-waktu diperlukan.

“Atas permintaan itu, kami pertimbangkan. Tapi, dengan syarat peruntukan utama sumur bor tetap untuk penyediaan air minum,” sebut Taufik.

Penyediaan air minum tetap ada, tambah dia, jika debit terpenuhi dan melebihi kebutuhan masyarakat setempat di luar jam operasi pemenuhan air minum, pemilik lahan bisa memanfaatkanya dengan menanggung bersama biaya operasional pemanfaatannya.

Soal lahan dari awal pemerintah sudah menawarkan u/ diberi kompensasi ganti rugi, akan tetapi pemiliknya menyerahkan lahan dengan hibah, soal itu silakan dikonfirmasi Kades Rasabou, karena beliau yang membahas lebih lanjut dengan pemiliknya.

Harapan pihaknya, para pihak bisa menahan diri, jangan mudah diprovokasi oleh tukang provokator. Kementerian PUPR melalui BWS sudah banyak membantu petani Desa Rasabou, termasuk 2 unit sumur bor di sekitarnya yang beroperasi milik BWS.

“Oleh karenanya, mohon juga dukung kerja BWS dalam mendukung penyediaan air minum untuk perumahan relokasi. Sebab, semuanya ini juga kerja pemerintah dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat,” jelas Taufik.

Dia menambahkan, pemerintah tidak sedang dalam agenda menyediakan infrastruktur untuk irigasi. Saat Perkim membangun sumur bor, anggaranya diperuntukan untuk penyediaan air minum warga permukiman relokasi.

“Kalau saya baca berita yang dimuat media dan menuding Kadis Perkim berbohong, bukan komentar yang keluar dari Kades Rasabou, Ketua BPD, atau pemilik tanah/lahan yang waktu itu kami minta izin untuk penggunaan lokasinya,” ujar Taufik.

Namun, kata dia, yang komentar di media bisa jadi orang yang mendengar berita sepotong-sepotong dan bukan sumber utama.

Oleh karenanya, media sebaiknya meminta konfirmasi berita kepada pihak terkait, agar berita yg dimuat bukan opini pembuat berita, tapi paling tidak memenuhi unsur fakta serta berimbang.

Apalagi berita yang dimuat tidak mengkonfirmasi sumber yang diberitakan. Kalau media memberitakan judul Kadis Perkim Bohong, maka pada pembukaan berita harusnya, mengutip ucapan pihaknya di mana, kapan, dan dalam forum apa?

“Nah, setelah itu semua terpenuhi, baru mengkonfirmasi fakta yang terjadi. Ya, sehingga dengan demikian, pembaca disuguhkan berita yang bermutu,” pungkas Taufik. (Muhtar Habe)

error: Content is protected !!