Tarif Kayangan-Poto Tano Naik, Gapasdap Jamin Pelayanan Lebih Maksimal

Lombok Timur, Lintasrakyatntbnews.com – Tarif penyeberangan Pelabuhan Kayangan Lombok Timur dan Pelabuhan Poto Tano Sumbawa, Nusa Tenggara Barat naik 15 persen mulai 1 Januari 2022.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Kayangan-Poto Tano Iskandar Putra kepada awak media, Kamis (29/12/2021) malam.

Iskandar mengatakan kenaikan
berlaku untuk penumpang dewasa dan semua jenis kendaraan.

Hal tersebut sesuai Surat Keputusan Gubernur NTB Nomor 550-776 tahun 2021 dan Surat Keputusan Direksi PT. ASDP IF (Persero) Nomor KD.130/OP.404/ASDP 2021 tentang Tarif Angkutan Penyeberangan Lintas Kayangan-Poto Tano.

Kenaikan tarif sudah melalui proses panjang, kata Iskandar, bahkan pengajuannya sejak era Kepala Dinas Perhubungan NTB sebelumnya.

“Semasa Kadishub Bayu sudah kita ajukan, tapi memang diaminkan pada era Kadishub Faozal,” ungkap Iskandar.

Iskandar menjelaskan persetujuan dari Dinas Perhubungan NTB juga melalui proses alot. Butuh kajian dari beberapa lintas sektoral dan akademisi sebelum ditetapkan.

“Kadishub Faozal waktu itu bilang kalau tarif naik, pelayananmu juga harus ditingkatkan dulu dong. Beri rasa aman dan nyaman kepada penumpang,” kata Iskandar mengulas pernyataan Kepala Dinas Perhubungan NTB Moh. Faozal beberapa waktu lalu.

Menjawab Kepala Dinas, Iskandar pun bersama 12 perusahaan penyeberangan Kayangan-Poto Tano sudah mulai memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Salah satunya, kata dia, memperbaiki kondisi kapal dan menyediakan fasilitas publik lainnya. Baik di wilayah pelabuhan maupun fasilitas di dalam kapal penyeberangan.

Di satu sisi, sambung dia, setiap bulan, pihak Dinas Perhubungan NTB juga rutin mengecek kondisi kapal maupun fasilitas pendukung lainnya.

“Ya, tentunya hal ini untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat,” pungkas Iskandar.

*Kadishub: Awalnya 24,5 Persen, Kita Setujui 15 Persen*

Sementara Kepala Dinas Perhubungan NTB Moh. Faozal yang dihubungi wartawan menjelaskan penyesuaian tarif ini sudah melalui proses panjang dan melalui kajian panjang dari tim.

“Awalnya Gapasdap minta kenaikan 24,5 pesen malah. Tapi setelah kita analisa kemampuan daya beli kemudian kondisi pandemi, akhirnya kita sepakati 15 persen,” jelas Faozal.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata NTB itu juga merincikan kenaikan tarif untuk semua roda transportasi itu juga tidak signifikan.

Dia mencontohkan kelas medium bus mengalami kenaikan tarif Rp 66 ribu. Sedangkan kendaraan lainnya, tidak mencapai Rp 50 ribu.

“Tidak ada yang di atas Rp 100 ribu kenaikannya. Tapi lihat apa yang mereka dapatkan. Pelayanan lebih baik dan maksimal,” tegasnya.

*Kenaikan Tarif Tak Masalah Asal Pelayanan Lebih Maksimal*

Di satu sisi, kenaikan tarif penyeberangan Kayangan-Poto Tano sudah lima tahun belum diupgrade. Sedangkan kondisi kapal penyeberangan semakin lama semakin membutuhkan biaya perawatan yang tinggi.

“Kalau ada penumpang mengeluhkan kapal kotor atau kendala lainnya, pasti perusahaan penyeberangan yang kena semprot kan? Nah, dengan adanya penyesuaian tarif ini kita harapkan diimbangi dengan pelayanan yang maksimal,” tegasnya lagi.

Sedangkan menjawab tudingan kenaikan tarif di waktu yang kurang tepat menurutnya tidak menjadi soal. Sebab berbicara soal waktu, tidak bisa diitung kapan waktu yang tepat.

Dia mencontohkan tarif penyeberangan Pelabuhan Lembar-Padangbai yang justru mengalami kenaikan pada awal masa pandemi 2020 lalu. Namun, tidak ada gejolak di tengah masyarakat.

Di satu sisi, sejumlah penumpang menilai, penyesuaian tarif penyeberangan Kayangan-Poto Tano masih dalam batas wajar. Sebab, baginya kenaikan tarif bukan masalah besar, jika melihat pelayanan dari pihak pelabuhan.

“Yang penting pelayanan lebih dimaksimalkan. Ya, kenapa harus mengeluh? Toh naiknya juga tidak seberapa,” ujar Rahman, salah distributor ikan asal Lape Lopok Sumbawa.

Diberitakan sebelumnya, Organisasi Angkutan Darat (Organda) NTB meminta Pemprov NTB mengkaji kembali kenaikan tarif penyeberangan Kayangan-Poto Tano.

Pasalnya, kenaikkan tarif yang ditentukan kajiannya belum lengkap. Sehingga kenaikan tarif ini bisa memengaruhi ekonomi, jual beli barang dan transportasi. (**)

error: Content is protected !!