News  

Faisal Minta YLKI Segera Keluar Dari Gedung

GORONTALO, LINTASRAKYATNTBNews.com – Salah seoarang wirausaha muda Limboto Faisal Tanango mengemukakan, persoalan gedung miliknya di Kelurahan Hepuhulawa, Kecamatan Limboto itu akan digunakan untuk keperluan yang lain.

” Ya, YLKI yang status peminjam, saya minta untuk keluar dan saya langsung tutup gedung ini,” kata Faisal ke awak media ini, Minggu (17/10/2021).

Tapi sayangnya, kata Faisal, nasib sial dia dipolisikan, karena mengambil alih gedung yang saat ini ditempati oleh oleh YLKI. Padahal, gedung itu adalah miliknya dan YLKI hanya berstatus sebagai peminjam.

” Bukannya pindah, malah melaporkannya ke Polda Gorontalo atas dasar penyerobotan dan lain sebagainya itu sangat tidak masuk akal,” ujarnya.

Dia menyebut, perbuatan YLKI ini sungguh memalukan dan cara kerja
mereka tidak lagi dalam perlindungan konsumen, justru sangat menyusahkan konsumen. Serta pekerjaan mereka justru tak pernah tuntas. Tambah lagi legalitas mereka patut pertanyakan.

“Saya sangat bingung dengan laporan tersebut. Padahal, saya ingin mengambil gedung saya sendiri yang saat ini ditempati oleh YLKI selama tujuh bulan, apakah itu salah?” Tanya Faisal,

Faisal pun menjelaskan, bahwa sebetulnya alasan YLKI bisa menempati gedung tersebut, karena beberapa waktu lalu ia terlilit hutang bank. Lalu, pihak YLKI mendatanginya dan menawarkan bantuan. Persyaratannya saat itu, gedung miliknya akan ditempati oleh YLKI.

“Dari pertemuan itu pihak YLKI mengatakan bahwa hutang tersebut tidak usah dibayar dan nanti akan digugat lewat hukum. Saat itu pun saya menyarakan persoalan ini terlebih dahulu dibahas dengan DPRD. Ini sebagai pembuktian apakah persoalan ini bisa digugat atau tidak,” jelas Faisal.

Hasilnya oleh DPRD Provinsi Gorontalo malah mengembalikan lagi ke pihak debitur dan bank. Karena itu, ia pun menempuh jalur musyawarah dengan bank, dan memberikan kuasa kepada pihak YLKI untuk menangani sengketa tersebut.

Namun, merasa persoalan yang ditangani oleh YLKI tidak kunjung tuntas, ia pun ingin mengambil kembali gedung tersebut, dan meminta untuk dikosongkan karena akan digunakan lebih bermanfaat bukan kegiatan yang tidak bermanfaat.

“Ketika saya ingin mengambil gedung itu, saya malah diminta (oleh YLKI) untuk membayar atensi sekitar Rp 10 juta. Padahal persoalan yang mereka tangani tak kunjung selesai. Malah saya banyak mengeluarkan duit untuk operasional mereka,” jelasnya.

Faisal pun menegaskan, bahwa gedung yang YLKI tempati merupakan miliknya dan bukan milik pemerintah. Terkait laporan yang dilayangkan oleh YLKI, sejauh ini ia belum mendapatkan panggilan dari Polda Gorontalo, bahkan dirinya akan melaporkan balik oknum ketua YLKI Provinsi Gorontalo itu.

“Gedung ini milik saya. Saya pun telah melakukan berbagai upaya agar mendapatkan penyelesaian. Bahkan gedung itu saya gembok dengan harapan agar ada jalur musyawarah tapi saya dilaporkan ke Polda Gorontalo,” ujar Faisal.

Sementara itu, Ketua YLKI Provinsi Gorontalo, Hariyanto Puluhulawa saat dikonfirmasi, malah menyarankan wartawan untuk mencari bukti pelaporan itu ke Polda Gorontalo.

Hariyanto bersikukuh, bahwa pemilik gedung itu bukanlah Faisal, melainkan wanita bernama Maryam. Belakangan diketahui, bahwa Maryam adalah mitra
dari Faisal.

“Ya, Anda tanyakan saja di Polda. Kalau saya tidak bisa memberikan jawaban siapa yang dilaporkan. Tapi, Anda tanya dulu siapa pemiliknya. Kalau pak Faisal pemiliknya berarti salah. Karena pemilik gedungnya bukan pak Faisal,” tutup Hariyanto. (Kania)

error: Content is protected !!