Ketum APIKI Sekaligus Dewan Penasehat MIO INDONESIA, Tegaskan Lewat Budidaya Porang Menuju Indonesia Maju

  • Bagikan

JAKARTA, LINTASRAKYATNTBNews.com – Ketua Umum APIKI Anto Suroto dan juga selaku Dewan Pembina Media Independen Indonesia (MIO-INDONESIA), gulirkan program masa depan ketahanan pangan pemberdayaan ekonomi industri kreatif lewat budidaya tanaman porang.

Anto Suroto dan Paidi Porang lakukan sinergi. Mereka berkolaborasi dan ingin hadirkan agar Indonesia bisa menjadi macan Asia dan sebagai negara pengekspor produk ketahanan pangan dunia.

Selaku Dewan Pembina MIO INDONESIA dan sekaligus sebagai Ketua Umum APIKI, Anto Suroto berharap kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, agar bisa menerbitkan regulasi khusus bagi petani porang,

Regulasi khusus itu, menurut pakar sekaligus pelaku UMKM tersebut, bisa saja berupa kemudahan birokrasi dalam hal pengajuan kredit dan juga pendampingan bagi para petani porang, agar memiliki skill yang mumpuni.

Hal tersebut, menurutnya, wajib dilakukan oleh pemda dan pemerintah pusat, agar para petani porang menjadi lebih bergairah, serta memiliki daya saing terkait produktivitas maupun kualitas budidaya tanaman porang yang dihasilkannya.

“Produktivitas dan kualitas menjadi dua bagian yang tidak terpisahkan, jika ingin produk yang dihasilkan dari budidaya porang ini, memiliki daya saing produk eksport masa depan Indonesia maju yang berkualitas,” ujar Anto Suroto, Jumat (15/10/2021) di Markas APIKI, Gedung SCANO CRAZY DREAM, Kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Perlunya kedua pemerintah tersebut terbitkan regulasi dan pendampingan bagi petani porang, menurut Anto, berdasarkan hasil kajian dan evaluasi terhadap petani porang yang telah dijumpainya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berbagai kendala dan keluhan yang disampaikan oleh para petani porang di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berhasil dijumpainya. Hampir menyuarakan nada serupa.

Yakni mereka (para petani porang-red) memang sangat membutuhkan pendampingan secara profesional, baik yang berkaitan dengan perbankan maupun pendampingan terkait pemasaran produk tepung porang maupun hasil produk turunannya.

Lebih jauh Anto, bahwa para petani porang hingga saat ini masih berharap adanya keberpihakan pemerintah daerah dan pusat yang bisa dirasakan secara nyata.

“Karena sebagai petani, mereka hanya terpikir dan berpikir harga porang baik basah maupun chip harus terkendali, jangan sampai terjadi seperti petani, garam , padi juga singkong yang sangat rendah, karena disebabkan oleh harga pupuk dan juga produktivitas petani yang dinilai masih belum maksimal, sehingga akhirnya produk yang dihasilkan tidak memiliki daya saing bagi pasar eksport,” ujarnya.

Anto juga berikan gambaran terkait potensi yang dimiliki negara Indonesia, menurutnya, bahwa Indonesia adalah surganya bagi ketahanan pangan dunia, karena letak geografis dan juga penduduknya yang sangat besar.

Terlebih jika pemerintah dan sumber daya manusianya bisa saling sinergi, serta didukung dengan ketersediaan tekhnologi semi moderen. Dipastikan Negara Indonesia ke depan bisa disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya.

“Ini bisa menjadi peluang kesempatan bangkitnya ketahanan pangan nasional, lewat budidaya tanaman porang, yang diyakini bisa menjadikan Indonesia sebagai negara maju,” pungkas Anto.

 

(Rel/Mio)

  • Bagikan