Opini  

Menelusuri Makna Pancasila

 

Oleh : Arifudin

Bima, Lintasrakyatntbnews.com – Secara etimologi Pancasila berasal dari bahasa Sangsekerta yakni panca yang berarti lima dan sila (Syila) yang berarti batu sendi atau dasar, kata sila yang asal katanya di ambil dari kata susila diartikan juga sebagai tingkah laku yang baik. Jadi Pancasila adalah lima batu sendi, atau lima dasar, atau lima tingkah laku yang baik (Sunaryo Wreksosoehadjo, 2011 :36).

 

Sementara itu dalam pengertian yang berbeda Pancasila yakni Pertama, Pancasila diartikan sebagai berbatu sendi yang lima (consiting of 5 roles). Kedua, Pancasila diartikan sebagai lima peraturan tingkah laku yang penting (Edi Rohani, 2019:13).

 

Kemudian secara literatur penggunaan istilah Pancasila terdapat dalam Kitab Tri Pitaka yang terdiri dari tiga macam kitab yakni Kitab Kitab Vinaya, kitab Sutha Pitaka, dan Kitab Abhidhamma Pitaka serta terdapat ajaran-ajaran moral lainnya terdapat dalam kitab Dasasyiila, Saptasyiila, dan Pancasyiila.

 

Dalam litarur yang paling terkenal bahwa istilah Pancasila diambil dari kata “Yatnanggegwani pancasyiila kertasangskarbhisekakakrama” yang berarti raja menjalankan dengan setia lima pantangan juga dimaknai sebagai lima panangan kesusilaan.

 

1) Dinamika Pengesahan Pancasila

Pada tanggal 18 Agustus 1945 Muhammad Hatta mengundang KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimejo, Mr. Teuku Mohammad Hasan untuk membicarakan penghapusan tujuh kata pada saat itu KH. Wahid Hasyim berperan penting mendukung islam sebagi ide gerakan tanpa harus secara formal termaktub dalam perumusan pancasila (Munawar, Aziz, 2017 :58.

 

Sementara itu dari tiga tokoh tersebut Ki Bagus Hadikusumo dibujuk oleh Kasman Singodimejo sesama tokoh Muhammadiyah untuk menerima penghapusan tujuh kata setelah sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan pertimbangan demi menjaga persatuan bangsa menjelang pinti gerbang kemerdekaan, jangan sampai dengan sikap ngotot pemimpin umat islam Indonesia gagal mencapai kemerdekaan (Munawar, Aziz, 2017 : 58).

 

Pada akhirnya agama dalam konsep Negara Republik Indonesia diluar kerangka peyatuan (fusion) dan pemisahan (separation) atau dalam bahasa sederhananya sebagaimana yang dikemukakn oleh Roelan Abdul Gani “negara secara aktif dan dinamis membimbing, menyokong, memelihara, dan mengembangkan agama. Juga tidak menyatu dengan agama karena tidak di dikte oleh agama-agama tertentu”.( Yudi Latif, 2015:95).

 

a. Kedudukan Pancasila

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila sangatlah berarti bagi Bangsa Indonesia, oleh sebab itu kedudukan Pancasila dalam berbangsa dan bernegara adalah sebagai dasar negara, sebagai falsafah bangsa, sebagai ideologi negara, sebagai sumber hukum.

 

1) Pancasila sebagai Dasar Negara

Menurut Tegus Prasetyo, Pancasila sebagai dasar negara dikarenakan bahwa Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai budaya bangsa yang telah digali yang merupakan pandangan hidup serta jiwa dan kepribadian masyarakat Indonesia (Tegu Prasetyo dan Arief Purnomosidi, 2014:20).

 

Artinya pancasila merupakan nilai luhir bangsa yang campur aduk nilai-nilai luar bangsa indonesia, oleh sebab itu “Pancasila sebagai dasar negara karena sesuai dengan jiwa Bangsa Indonesoia sendiri”.

 

Secara normatif bahwa Pancasila dikatakan sebagai dasar negara kerana telah disahkan oleh Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945 sehingga Pancasila menjadi :

 

a) Dasar berdiri dan tegaknya Bangsa Indonesia;

b) Dasar dalam penyelenggaraan negara;

c) Dasar partisipasi warga negara;

d) Dasar pergaulan masyarakat;

e) Dasar dan sumber hukum internasional (Tegu Prasetyo dan Arief Purnomosidi, 2014:21).

 

Sementara itu menurut Ketus Rinji dan Winarno bahwa Pancasila sebagai dasar negara memiliki makna yang penting yakni sebagai berikut :

a) Sebagai dasar negara yang bersifat abstrak dan universal;

b) Sebagai pedoman penyelenggaraan negara yang bersifat umum kolektif;

c) Sebagai petunjuk kebijakan negara yang bersifat khusus-konkrit (Winarno, 2012:65-62).

 

Dengan demikian bahwa Pancasila sebagai dasar negara bukan karena tidak ada opsi lain dari para founding fathe bangsa ini, namun lebih pada Pancasila menjadi rumusan yang dapat mewakili jiwa keindonesiaan secara fundamental. 2) Pancasila sebagai Falsafah bangsa

Pancasila sebagai falsafah bangsa (philosofische Groudslag) secara formil dimaknai sebagai “Dengan berdasar kepada” secara yuridis berarti sebagai dasar negara. Pemaknaan itu bersumber pada Pembukaan Undang-Undang dasar Negera Republik Indonesia tahun 1945 dalam Alenia ke IV berbunyi : “maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

 

3) Pancasila sebagai Ideologi Bangsa

Pancasila sebagai ideologi negara didasarkana pada argumentasi bahwa Pancasila berakar pada pandangan hidup dan buya bangsa bukan mengambil dan mengangkat ideologi dari bangsa lain. Di mana dalam perumusannya memang menggali karakter dan budaya yang telah berkembang di masyarakat sejak dulu (kristalisasi) .

 

Selain itu untuk memperkokoh pandangan Pancasila sebagai ideologi negara maka alasan yang dapat dijadikan bukti adalah bahwa Pancasila buka ide dan perenung satu orang saja, atau kelompo dan golongan tertentu melainkan Pancasila itu merupakan nilai yang telah dimiliki oleh bangsa ini sejak dahulu (kala Kaelan, 2016:27).

 

4) Pancasila sebagai Sumber Hukum

Pemahaman atas Pancasila sebagai sumber hukum adalah dapat dilihat pada Ketetapan MPR No. XX/MPRS/1966 yang menyatakan bahwa Pancasila sebagai sumber ketertiban hukum Indonesia yang pada hakikatnya berisikan pandangan hidup, kesadaran, dan cita-cita hukum, dan cita-cita moral yang meliputi suasana kebatinan serta watak bangsa Indonesia.

 

Dalam pengertian ini maka Pancasila berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia, atau dengan perkataan lain sebagai sumber tertib hukum Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945(Kaelan, 2016 :26-27). Jikalau bisa disingkat, maka pemaknaan dan pemahaman atas Pancasila sebagai sumber hukum Indonesia antara lain sebagai berikut :

a) Pancasila sebagai sumber hukum itu sendiri;

b) Merupakan suasana kebatinan (geistlichhenhintergrund) dari Undang-Undang Dasar;

c) Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara;

d) Mengandung norma yang mengharuska isi UUD diikuti oleh pemerintah, penyelenggaraan negara, memelihara budi pekerti, dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur;

e) Merupakan sumber semangat bagi Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia tahun 1945.

error: Content is protected !!